Hak Siar Dibuat Eksklusif, Alasan Pengacakan Liga Indonesia

Dalam beberapa tahun terakhir kompetisi Liga Indonesia tidak bisa lagi dinikmati secara gratis, khususnya bagi masyarakat pengguna parabola. Ternyata, perubahan sistem penayangan tersebut dikarenakan tingginya biaya untuk memutar kompetisi Liga Indonesia dalam satu tahun.
Hal itu diakui salah satu pemegang hak siar Liga 1 dan Liga, yaitu Orange TV.
”Sebagai gambaran, 50-65 persen dana sponsor dari hak siar. Untuk Liga Indonesia, setahun dibutuhkan lebih dari Rp400 miliar,” ujar Greeny Dewayanti, direktur komersial PT Mega Media Indonesia (Orange TV), Senin (5/6).

”Bila tidak ada dana sponsor, maka sepakbola Indonesia akan terus berada di ranking terbawah FIFA. Dengan demikian, diperlukan enkripsi untuk penayangan Liga Indonesia,” tambahnya.

Sebelum Orange TV, dalam dua edisi terakhir kompetisi Liga Indonesia, perusahaan tv berbayar memang terlibat dalam penayangan siaran.

Di ajang ISC, tercatat tiga perusahaan menjadi pemegang hak siar, yaitu K-Vision, Orange TV, dan Nexmedia. Sebelumnya, ketika ISL 2014, K-Vision yang menjadi pemegang hak siar bersama Grup MNC.

Belum ada Komentar untuk "Hak Siar Dibuat Eksklusif, Alasan Pengacakan Liga Indonesia"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel